KTI Widyaiswara RD Prog. Aplikasi ME BERMUTU KKG/MGMP Mandiri

RANCANGBANGUN MEDIA DIKLAT INTERAKTIF

PROGRAM APLIKASI WHAT IF MODEL

SIMULATOR MONITORING EVALUASI KKG/MGMP MANDIRI

DALAM  DIKLAT ME BERMUTU DI LPMP JAWA TENGAH

Drs. Sri Wasono Widodo,M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

 

ABSTRAK

Widodo, Sri Wasono. 2013. “Rancangbangun Media Diklat Interaktif Program Aplikasi What If Model Simulator Monitoring Evaluasi KKG/MGMP Mandiri dalam  Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah”. Laporan Penelitian Pengembangan, diajukan dalam rangka kegiatan pengembangan profesi Widyaiswara.

 

Penelitian dalam artikel ini dilatarbelakangi kebutuhan akan keefektivan kegiatan simulasi monitoring evaluasi KKG/MGMP mandiri dalam Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah, sehingga diperlukan suatu program aplikasi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam simulasi monitoring dan evaluasi. Tujuan penelitian ini agar program aplikasi yang dihasilkan berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam simulasi maupun pelaksanaan monitoring evaluasi Program BERMUTU. Spesifikasi program aplikasi yang dirancangbangun bertipe What If Model, berbasis kombinasi Visual Basic Application dan Spreadsheet Application Microsoft Excel yang memiliki kompatibilitas di Excel 2003 atau generasi setelahnya. Produk yang dihasilkan diuji coba secara terbatas dengan responden seorang National Core Team Program BERMUTU, 2 orang fasilitator diklat dan 8 orang yang pernah mengikuti kegiatan Diklat ME BERMUTU tahun sebelumnya. Instrumen yang digunakan adalah angket yang telah divalidasi. Setelah direvisi, media diklat interaktif program aplikasi didiseminasikan dalam diklat ME BERMUTU dan diunggah ke web sehingga dapat diunduh secara online.     

 

Kata Kunci : media diklat interaktif, What If Model Application, simulasi monev.


  1. I.       PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen perlu dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel. Untuk mendukung pelaksanaan tersebut, Pemerintah menyelenggarakan Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU). Berbagai kegiatan akan diimplementasikan mulai tahun 2008 hingga tahun 2013. Melalui program BERMUTU tersebut berbagai best practices (pengalaman-pengalaman terbaik) dari berbagai negara dapat diadopsi dan atau diadaptasi sebagai salah satu bahan rujukan. Di samping itu, Program BERMUTU diharapkan dapat mempercepet proses sertifikasi, peningkatan kualifikasi guru serta pengembangan profesional guru secara berkelanjutan (Continuous Professional Development) yang berdasarkan prinsip hemat atau efektif biaya (cost effectiveness). Pelaksanaan program BERMUTU menggunakan dana dari berbagai sumber untuk operasional kegiatan kelompok kerja. Dana Bantuan Langsung (DBL) ini berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Belanda dan Bank Dunia (POM BERMUTU, 2008:1). Program ini juga diharapkan dapat mempercepat pencapaian kualitas pendidikan sesuai standar yang diharapkan. Untuk itu, LPMP memiliki peran antara lain dalam monitoring dan evaluasi kegiatan Program BERMUTU tersebut (World Bank,2007:55).

Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 1). (1)  Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 2).

Media diklat yang interaktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi bisa meningkatkan keefektivan pembelajaran. Pemanfaatan media dengan memperhatikan prinsip-prinsip andragogis  dan teori pembelajaran orang dewasa menjadi komponen vital dalam suatu kegiatan diklat (Wang: 2010).

Kegiatan pengembangan media diklat melalui suatu kegiatan penelitian prngembangan (research and development/RD) yang hasilnya dituangkan dalam suatu tulisan, dapat dikategorikan sebagai kegiatan karya tulis ilmiah (KTI). Kegiatan ini menjadi salah satu indikator kompetensi profesional seorang widyaiswara. Kemampuan menulis ini dapat mendukung tugas utama widyaiswara yaitu mendidik, mengajar, dan melatih dalam kegiatan diklat. Pengembangan media juga berfungsi untuk meningkatkan keefektivan proses pembelajaran dalam diklat (lampiran Peraturan Kepala LAN No,9 Tahun 2008).

Keberhasilan program BERMUTU perlu diukur bukan saja ketika DBL dikucurkan, namun juga ketika masa DBL berakhir sehingga kelompok kerja yang bersangkutan harus mandiri di dalam pelaksanaan. Bagi kelompok-kelompok kerja mandiri tersebut  –termasuk di dalamnya untuk Kelompok Kerja Guru (KKG) di jenjang sekolah dasar dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di jenjang sekolah menengah pertama– diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang efektif dan efisien. Komponen yang penting dari ME Program BERMUTU tersebut antara lain faktor sumber daya manusia  (dalam hal ini petugas ME) dan perangkat keras maupun perangkat lunak instrumen ME tersebut. Pembekalan Petugas ME di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah biasanya dilakukan melalui kegiatan Diklat Petugas ME. Di dalam diklat tersebut terdapat kegiatan simulasi pelaksanaan ME.Dalam kegiatan simulasi tersebut, peserta diklat harus berlatih memahami cara mengumpulkan data dan menganalisis hasilnya secara akurat sehingga ketika kegiatan ME yang sesungguhnya berlangsung bisa berjalan efisien dan efektif. Peneliti memandang perlu untuk mengembangkan program aplikasi yang bisa mendukung baik kegiatan simulasinya maupun kegiatan supervisinya.  Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Rancangbangun Media Diklat Interaktif Program Aplikasi What If Model Simulator Monitoring Evaluasi KKG/MGMP Mandiri dalam  Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah”.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimana merancangbangun program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  2. Bagaimana merancangbangun program aplikasi yang mampu berfungsi sebagai simulator dalam ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  3. Bagaimana merancang bangun program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan  ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri secara efisien dan efektif.

 

 

  1. C.    Tujuan Penelitian Pengembangan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:

  1. Menghasilkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  2. Menghasilkan program aplikasi yang mampu berfungsi sebagai simulator ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  3. Menghasilkan program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri secara efisien dan efektif.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian Pengembangan

Manfaat dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi fasilitator diklat. program aplikasi yang dihasilkan berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantunya dalam mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  2. Bagi peserta diklat, program aplikasi yang dihasilkan dapat membantunya dalam melakukan simulasi ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.
  3. Bagi pengguna, program aplikasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk melaksanakan  ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri secara efisien dan efektif.

 

  1. E.     Definisi Operasional

Dalam suatu penelitian pengembangan program aplikasi digunakan beberapa istilah yang spesifik. Untuk mempermudah pemahaman pembaca karya tulis ini, berikut dideskripsikan beberapa istilah yang banyak digunakan. Beberapa istilah tersebut beserta penjelasannya adalah sebagai berikut:   

  1. Diklat ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan mempersiapkan petugas ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri yang pesertanya berasal dari widyaiswara dan staf  LPMP Jawa Tengah ditambah unsur pengawas sekolah.
  2. Simulator ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri adalah program yang dapat mensimulasikan pengumpulan dan analisis data dalam ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.    
  3. Multimedia diklat interaktif adalah alat bantu pembelajaran dalam suatu kegiatan diklat yang memiliki karakteristik peserta diklat dapat memberikan kontrol terhadap alat tersebut sehingga ia dapat mereview materi sesuai kepentingan individualnya dalam berinteraksi dengan materi diklat.  
  4. Program Aplikasi What If Model adalah suatu program aplikasi yang disetting untuk mampu menganalisis sistematis dampak dari berbagai macam input data.
  5. Pemrograman VBA Excel adalah bahasa pemrograman Visual Basic Application pada Excel Microfoft Office 2010 namun memiliki kompatibilitas pada  platform operating system Microsoft Office 2003 atau generasi sesudahnya.
  6. Spreadsheet Applications merupakan suatu spreadsheet file (atau beberapa file yang saling terhubung) yang dirangkai sedemikian rupa sehingga end user dapat menggunakan program untuk suatu kegiatan secara efisien dan efektif tanpa berlatih intensif.
  7. Peneliti atau Pengembang atau Developer adalah Orang yang membuat program aplikasi sedangkan End User atau User atau Pengguna adalah Orang yang menggunakan program aplikasi. Pengembang kadang-kadang sekaligus Pengguna (Walkenbach, 2010:102).
  8. Kinerja media diklat yang efektif adalah suatu kondisi di mana hasil uji coba terbatas di lapangan menunjukkan media tersebut mampu membantu peserta diklat mensimulasikan pengumpulan data dan analisis data ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri.

 

  1. F.     Asumsi dan Keterbatasan
  2. 1.        Asumsi

Asumsi dalam penelitian ini adalah:

  1. Responden memberikan informasi secara jujur dan benar, terhadap media diklat yang digunakan dalam simulasi melalui angket respon peserta diklat.
  2. Peneliti menuliskan hasil pengamatan terhadap penggunaan media diklat interaktif pada kegiatan simulasi secara akurat, objektif dan jujur ke dalam lembar pengamatan. Dengan demikian hasil pengamatan tersebut tidak direkayasa oleh peneliti agar hasil yang diperoleh akuntabel.

 

  1. 2.        Keterbatasan

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

  1. Desain program aplikasi media diklat dalam penelitian ini terbatas hanya pada tipe What If Model.
  2. Program aplikasi hanya dipergunakan untuk simulasi ME Program BERMUTU untuk KKG/MGMP mandiri saja.
  3. Program aplikasi hanya terbatas menganalisis data, bukan interpretasinya.

 

  1. II.      KAJIAN TEORI

 

  1. A.  Simulator Monitoring Evaluasi KKG/MGMP Mandiri dalam Diklat ME BERMUTU

Dalam rangka peningkatan kualifikasi dan penerapan sertifikasi guru sesuai Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pemerintah Indonesia beserta Pemerintah Belanda dan Bank Dunia menyepakati untuk bekerjasama dalam penyelenggaraan program BERMUTU. Program ini difokuskan pada upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Sumber pendanaan program berasal dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Balitbang Depdiknas dan Pemerintah Daerah (Dirjen PMPTK,2008:I-1).

Tujuan Program BERMUTU adalah untuk meningkatkan kualitas guru secara keseluruhan terutama performans guru melalui peningkatan pengetahuan guru terhadap substansi materi pembelajaran dan keterampilan mengajar sesuai kaidah pedagogis dalam kelas. Peningkatan kualitas guru dan performansnya diukur dari: (1) bertambahnya jumlah guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan minimal S1 sesuai tuntutan Undang-Undang Guru dan Dosen; (2) bertambahnya jumlah guru di SD dan SMP di wilayah BERMUTU yang melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kaidah pedagogi untuk mata pelajaran tertentu dan usia siswa; dan (3) berkurangnya tingkat kemangkiran guru (World Bank,2007:10).  

Dalam Program BERMUTU, LPMP memberikan provisi berupa bantuan teknis untuk membangun kapasitas kepala sekolah dan pengawas sekolah. Dalam hal ini, LPMP memiliki peran sebagai pengendali mutu manajemen, harus membangun kapasitas kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui dukungan terhadap kegiatan gugus, seperti pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan, mempersiapkan pelaksanaan pelatihan dan publikasinya, perancangan penggunaan modul pelatihan, mempersiapkan fasilitator pelatihan, dan monitoring dan evaluasi kegiatan pelatihan (World Bank,2007:55).

Deskripsi Program BERMUTU meliputi empat komponen. Komponen pertama terkait Perguruan Tinggi yang mempersiapkan tenaga pendidik. Komponen kedua menyangkut penguatan struktur peningkatan kualitas guru pada tingkatan lokal. Komponen ketiga menyangkut reformasi akuntabilitas guru dan sistem insentif untuk penghargaan performans guru dan pengembangan karirnya. Komponen keempat adalah perbaikan koordinasi program, monitoring dan evaluasi (World Bank,2007:11). Sesuai dengan tugas LPMP, maka ME di LPMP hanya terkait dengan komponen kedua dan ketiga.

Dalam dasawarsa terakhir ini telah terjadi beberapa perubahan paradigma dalam kegiatan monitoring evaluasi (ME) bidang pendidikan. Kini Kita hidup di masa yang menuntut akuntabilitas publik yang lebih tinggi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Muncullah tuntutan bahwa seorang guru harus menunjukkan profesionalismenya dalam mengajar yang bermuara pada suksesnya belajar siswa (student learning). Seorang guru harus dapat membuktikan bahwa siswa mempelajari apa yang ia butuhkan pada tingkatan  pemahaman tertinggi dan semuanya merupakan hasil dari apa dan bagaimana guru mengajar. Paradigma pembelajaran seperti ini harus dapat digali dalam suatu kegiatan monitoring dan evaluasi (Aseltine,2006:12).

Sistem Monitoring dan Evaluasi Program bermutu secara garis besar terdiri dari 2 (dua) jenis ME yaitu PMME (Program Management Monitoring and Evaluation) dan PIME (Program Impact Monitoring and Evaluation). PMME adalah ME yang ditujukan untuk mengendalikan pengelolaan semua subkomponen dan kegiatan yang merupakan bagian dari Komponen 1, 2, 3, dan 4 agar semua kegiatan tersebut dilaksanakan secara tepat waktu, tepat prosedur, tepat sasaran, dan tepat hasil. Jenis ME ini terdiri dari 3 (tiga) macam ME yakni: (1) ME Pengelolaan Pemberian Block Grant kepada kelompok kerja tenaga kependidikan atau Compliance Monitoring; (2) ME Pengelolaan Kegiatan Non‐Block Grant atau kegiatan selain pemberian block grant kepada kelompok kerja tenaga kependidikan yang dalam penelitian ini disebut kelompok kerja mandiri (Dirjen PMPTK, 2008:VII-2).

Pada setiap provinsi yang menjadi mitra Program BERMUTU dibentuk unit implementasi program tingkat provinsi atau Provincial Program Implementation Unit (PPIU) yang bertanggungjawab dalam kegiatan pemberdayaan kelompok kerja guru (KKG/MGMP), kepala sekolah (KKKS/MKKS), dan pengawas (KKPS/MKPS), berdasarkan penugasan dari Ditjen PMPTK, termasuk dalam mengembangkan panduan dan instrumen untuk memberdayakan kelompok kerja tersebut, dan pengembangan proposal penyaluran dana bantuan langsung. Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut, LPMP mempunyai tugas dan fungsi melakukan kerjasama dengan P4TK dan DCT/TIK untuk mensupervisi, memonitor, dan mengevaluasi pemanfaatan Dana Bantuan Langsung yang disalurkan kepada KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS, dan MKPS (Dirjen PMPTK, 2008:III-13). Atas dasar pemikiran inilah LPMP Jawa Tengah mengembangkan instrumen ME dengan komponen yang meliputi pengorganisasian, persiapan pokja, kinerja pokja, sinergitas, dan peran stakehokder.

Pelaksanaan ME konvensional menggunakan print out instrumen. Dalam penelitian ini dikembangkan instrumen digital berupa program aplikasi. Agar pelaksanaan ME berlangsung dengan sukses, diperlukan pembekalan untuk para petugas ME dalam suatu kegiatan diklat. Dalam diklat itulah diperlukan program aplikasi sebagai simulator kegiatan ME.

 

 

  1. B.     Media Diklat Interaktif

Penggunaan media yang efektif dalam suatu kegiatan pembelajaran, termasuk dalam kegiatan diklat dapat memberikan motivasi belajar. Motivasi belajar yang efektif akan meningkatan hasil belajar. Pembelajaran dengan materi yang menuntut pemahaman praktikal, membutuhkan media pembelajaran yang baik (Schunk, 2012: 345).

Multimedia Interaktif merupakan  istilah yang seringkali digunakan di dalam teknologi pendidikan terutama pada era revolusi teknologi informasi dewasa ini. Dalam peristilahan yang digunakan secara luas, istilah tersebut memiliki arti yang amat beragam pada spektrum media massa baik bahan cetak, audio, video, maupun teknologi yang dikembangkan berbasis paket piranti keras dan piranti lunak komputer yang diproduksi secara massal serta memungkinkan penggunaan secara individual untuk belajar. Istilah multimedia bisa digunakan pada berbagai level belajar berupa perangkat pendidikan  yang memungkinkan keanekaragaman presentasi materi pelatihan.

Multimedia merupakan kombinasi fungsional dari piranti keras dan piranti lunak komputer yang dalam pengembangnya memungkinkan pengintegrasian video, animasi, audio dan grafis untuk dikembangkan menjadi alat presentasi pada desktop komputer (Reddi, 2003: 4). Multimedia juga bisa dimanai sebagai alat presentasi yang memiliki karakteristik kombinasi fungsional dari teks, gambar, suara, animasi, dan video, yang beberapa diantaranya atau seluruhnya diorganisasikan menjadi suatu program yang koheren (Reddi, 2003: 4). Dari dua  pendapat tersebut, dapat dicari kesamaannya bahwa multimedia merupakan kombinasi fungsional yang diprogramkan secara teliti dari beberapa elemen yang meliputi teks, grafis, suara, animasi, dan video.

Dari terminologi multimedia kemudian dielaborasi menjadi Multimedia Interaktif.  Komponen interaktivitas suatu multimedia menggambarkan bahwa end user  multimedia tersebut ataupun audien dapat melakukan kontrol ‘apa’, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’  dari elemen tersebut muncul dan dipresentasikan. Dari deskripsi di atas multimedia interaktif dapat didefinisikan sebagai kombinasi sinergis dan simbiotis dari berbagai elemen media (audio, video, grafis, teks, animasi, dsb,) ke dalam suatu kesatuan program sehingga memberikan manfaat yang lebih optimal kepada end user dibandingkan bila elemen-elemen tersebut berfungsi secara mandiri.    

 

  1. C.      Multimedia Interaktif  Program Aplikasi What If Model

Program Aplikasi What If Model merupakan salah satu kategori dari kombinasi spreadsheet application dan VBA. Banyak orang beranggapan bahwa model ini merupakan tipikal aplikasi berbasis spreadsheet yang paling baik sehingga paling banyak dikembangkan. Kemampuan program untuk menghitung ribuan formula menyebabkan piranti lunak ini menjadi alat yang ideal untuk membuat suatu model yang terdiri dari banyak variabel dan beragam nilai. Model ini dapat digambarkan sebagai spreadsheet berisi banyak formula yang biasanya memiliki format template. Mengubah nilai dari suatu sel berarti Kita seolah bertanya “Bagaimana seandainya . . .?” sehingga disebut What If Model. Tipe ini mencakup spreadsheets yang dirancang untuk analisis sistematis dampak dari berbagai macam input data. What-if models memiliki keunggulan ditinjau dari aspek kemungkinan penambahan menu sehingga lebih user-friendly, khusunya bila model ini digunakan untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan user interface yang baik dalam aplikasi ini membuat setiap orang merasa sangat mudah ketika mengoperasikannya, termasuk bagi orang yang masih agak awam dengan Excel.  Sebagai contoh, Kita bisa menciptakan suatu interface sehingga ketika end user menginput berbagai jenis asumsi maka seketika Ia akan mendapatkan visualisasi skenario dari yang dipilihnya tadi dengan tambahan grafik simpulannya hanya dengan sekali klik tombol menu. (Walkenbach,2010:109).

 

  1. D.    Spreadsheet Application

Spreadsheet application merupakan suatu file spreadsheet (atau sekelompok file yang saling terkait) yang dirancang sedemikian rupa sehingga seseorang yang bukan pengembangnya dapat mengerjakan sesuatu menggunakan program tersebut dengan benar tanpa latihan yang ekstensif. Program Spreadsheet application yang baik memiliki karakteristik berikut ini (Walkenbach, 2010:101):

  • Program memungkinkan end user melakukan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga ia tidak melakukannya dengan cara di luar yang dikehendaki pengembang.
  • Program menyediakan solusi terhadap permasalahan secara memadai untuk pencapaian tujuan program.
  • Program menggunakan metode yang sesuai dan efisien serta algoritma untuk menuntaskan pekerjaan.
  • Program akan melokalisasi error sebelum end user terpaksa mengatasinya.
  • Program tidak memungkinkan end user untuk menghapus atau memodifikasi sebagian atau keseluruhan program baik secara sengaja ataupun tidak.
  • User interface dari program sangat jelas dan konsisten sehingga user selalu akan mengetahui bagaimana menggunakan program.  
  • Elemen-elemen formula, macro, dan user interface terdokumentasi dengan baik, memungkinkan perubahan susulan jika memang dibutuhkan.  
  • Program dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dimodifikasi dengan cara yang mudah tanpa perubahan mendasar. Kenyataan dalam hidup Kita adalah user membutuhkan perubahan setiap saat.
  • Program memiliki kemudahan dalam mengakses sistem bantuan dengan menyediakan informasi yang memadai dan sangat bermanfaat paling tidak dalam hal prosedur utama.
  • Program dirancang bersifat portable dan mampu run pada banyak sistem yang memiliki piranti lunak dengan spesifikasi yang lebih tinggi (dalam hal ini, untuk semua versi Excel yang sesuai).

 

  1. E.     Visual Basic Application Excel

VBA merupakan kependekan dari Visual Basic for Applications. Aplikasi Visual Basic di dalam Excel 2007 menjadi salah satu bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Microsoft. Excel adalah salah satu elemen dari Microsoft Office 2007. VBA merupakan alat yang bisa Kita pergunakan untuk mengembangkan program yang mengontrol Excel. Kita harus membedakan VBA dengan VB yang merupakan kependekan dari Visual Basic. VB merupakan bahasa pemrograman yang memungkinkan Kita membuat program executable (File exe) mandiri. Jadi, VBA berbeda dengan VB (Walkenbach, 2003: 6).

Karena merupakan bahasa pemrograman yang riil dan live, VBA mempergunakan banyak elemen bahasa pemrograman yang sering dipergunakan. Di antara beberapa elemen bahasa pemrograman tersebut adalah: comments, variables, constants, data types, dan arrays (Walkenbach,  2004: 89).

Dalam pemrograman VBA Excel 2007 beberapa tipe data digunakan. Tipe data merupakan istilah yang biasa dipergunakan untuk menyebutkan bagaimana cara dari suatu program menyimpan data dalam memori — sebagai misal, integers, real numbers, atau data strings. Meskipun VBA dapat menangani detail tipe data tersebut secara otomatis, namun ada konsekuensi yang harus diperhitungkan.  Namun konsekuensinya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaatnya. Misalkan Kita tidak mempergunakan VBA untuk menangani entri data menyebabkan eksekusi menjadi lambat dan penggunaan memori yang tidak efisien. Untuk aplikasi yang sederhana, hal seperti ini tidak menjadi masalah yang serius. Namun untuk aplikasi yang lebih besar dan lebih kompleks akan menyebabkan kerja program menjadi lambat atau membutuhkan konservasi setiap memori yang tersisa, Pada saat itulah Kita membutuhkan pengenalan yang lebih mendalam tentang tipe data (DeMarco, 2007: 30).  

VBA memang secara otomatis menangani semua data secara detail, yang membuat Kita menjadi nyaman dalam melakukan pemrograman. Tidak semua bahasa pemrograman memberikan kenyamanan seperti ini. Misalnya, ada bahasa pemrograman yang semata-mata hanya mengetik saja, sehingga seorang pemrogram harus secara eksplisit mendefinisikan secara operasional tipe data untuk setiap variabel yang digunakan (Walkenbach, 2007: 97).

Dengan VBA Excel memungkinkan kita menggunakan menu yang disebut UserForm. Excel 2007 memungkinkan Kita bisa menciptakan screen data entri yang mudah digunakan oleh end users.  Program seperti ini dapat juga berfungsi sebagai wahana display untuk summary data ataupun data itu sendiri dari berbagai sumber data.  Program ini juga menyediakan untuk Kita tools yang Kita butuhkan untuk menciptakan “wizard” aplikasi atau form data entri sederhana  (DeMarco, 2008: 30).

Bahasa pemrograman VBA dalam Excel menurut John Green (2007: 30) terdiri dari beberapa elemen yang berlaku secara umum untuk semua versi VB dan aplikasi Microsoft Office. Contoh-contoh berikut merupakan bahasa yang memanfaatkan model objek Excel, namun tujuannya adalah menguji struktur umum dari bahasa pemrograman. Beberapa dari struktur dan konsep tersebut dikenal oleh bahasa pemrograman yang lain, meskipun sintaks dan kata kuncinya bisa sangat bervariasi. Elemen tersebut adalah sebagai berikut:

  • Penyimpanan informasi dalam variabel dan array.
  • Pembuatan keputusan dalam kode
  • Penggunaan loops.
  • Penanganan basic error.

Penggunaan VBA dalam Excel memiliki beberapa keunggulan (Walkenbach, 2007: 15), antara lain:

  • Excel selalu selalu mengeksekusi suatu task dengan cara yang selalu sama persis. 
  • Dengan VBA, Excel melakukan task jauh lebih cepat daripada dilakukan secara manual.
  • Dengan macro, Excel selalu memiliki performans tanpa kesalahan.
  • Semua task yang diprogramkan dapat dilakukan Excel meskipun user masih awam tentang excel.
  • Dengan VBA banyak hal yang bisa Kita lakukan, yang tidak akan bisa Kita lakukan dalam Excel tanpa VBA.
  • Untuk tugas-tugas Excel yang membutuhkan waktu lama dan membosankan, VBA bisa mengurangi durasi waktu dan kebosanan tersebut.

Di samping beberapa keuntungan di atas, VBA juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • Kita harus terlebih dahulu mempelajari bagaimana cara menulis program VBA (meskipun tidak terlalu sulit).
  • Orang lain yang menggunakan program VBA yang telah kita buat, harus sudah memiliki program Excel dalam komputernya. Memang lebih nyaman bagi Kita jika tinggal menekan satu tombol yang dapat mentransformasikan aplikasi Excel VBA kita ke dalam suatu program mandiri, namun hal seperti ini tidak mungkin Kita lakukan (dan mungkin tidak akan pernah bisa Kita lakukan).
  • Kadang-kadang program tidak bisa berfungsi. Dengan kata lain, Kita tidak bisa begitu saja dengan mudah berasumsi bahwa program VBA Kita akan berfungsi dengan sempurna dalam semua kondisi. Di sini peran debugging menjadi sangat esensial.
  • VBA merupakan sasaran bergerak. Sebagaimana Kita maklumi bersama, Microsoft senantiasa meng-upgrade Excel. Boleh jadi program Excel VBA yang kita buat tidak bisa beroperasi dengan baik di versi Excel generasi berikutnya.

 

  1. F.       Aplikasi Multimedia Interaktif Tipe What If Model dalam Simulasi ME KKG/MGMP Mandiri

Simulasi ME KKG/MGMP mandiri adalah suatu kegiatan dalam Diklat ME Program BERMUTU yang diikuti oleh calon petugas ME di LPMP Jawa Tengah. Sebagian besar peserta, yaitu 90% dari peserta (data primer) tidak memahami penggunaan formula dalam excel. Mereka tidak memiliki waktu memadai untuk mengeksplorasi rumus-rumus penghitungan skor akhir dalam pengolahan data hasil ME. Berdasarkan deskripsi karakteristik program Turnkey Application, Spreadsheet Application, dan VBA Excel di atas, maka Peneliti memandang program yang akan dikembangkan sangat sesuai dengan karakteristik peserta diklat.

 

  1. G.    Pengembangan Model Desain Instruksional dengan Menggunakan Multimedia Interaktif

Model pengembangan multimedia interaktif untuk kegiatan diklat di dalam penelitian ini mengadopsi dari Parhar (2003: 32). Dengan membandingkan berbagai model desain berdasarkan berbagai teori belajar, Parhar mendeskripsikan beberapa komponen yang sama dari langkah-langkah pengembangan desain instruksional dengan memanfaatkan multimedia interaktif, yaitu:

  1. Perumusan tujuan pembelajaran mata diklat yang dapat dirinci sebagai berikut:
  2. Identifikasi dan analisis tujuan pembelajaran dari mata diklat.
  3. Perencanaan dan solusi desain untuk pencapaian tujuan tersebut.
  4. Implementasi dari solusi tersebut.
  5. Analisis isi multimedia interaktif yang dikembangkan.
    1. Pemilihan jenis multimedia yang sesuai untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
    2. Pembuatan multimedia interaktif. 
    3. Evaluasi keefektivan multimedia yang dikembangkan.

Model desain instruksional untuk kegiatan diklat dengan memanfaatkan teknologi bisa didefinisikan sebagai representasi visual dari suatu proses desain instruksional, berupa elemen-elemen utama atau frasa dari proses dan hal-hal yang terkait. Pendekatan sistemnya meliputi perumusan sasaran dan tujuan, analisis sumber, merencanakan kegiatan, dan evaluasi berkelanjutan dan modifikasi dari program. Pendekatan sistem seperti ini sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an dan 1960-an dan berakar di militer dan koorporasi, namun mulai mendominasi dunia pendidikan teknologi dan pembangunan pendidikan sejak tahun 1970-an. (Chen, 2011:81 ).

 

  1. H.    Kriteria Kelayakan Multimedia Interaktif Tipe What If Model

Ada paling sedikit sebelas faktor kualitas yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan suatu piranti lunak  (Edward Hasted, 2005: 121), yaitu:

  1. Valid,  suatu program aplikasi disebut valid apabila program tersebut dapat berfungsi sesuai dengan tujuan program tersebut dibuat.
  2. Reliabel, yaitu program aplikasi tersebut harus mampu beroperasi dengan akurat.  
  3. Efisien, suatu program aplikasi harus mampu bekerja di dalam jaringan dan sistem secara memadai dan tanpa hambatan.
  4. Memiliki integritas, artinya program aplikasi yang dibuat harus memiliki ketahanan tinggi terhadap virus dan hacking.
  5. Keterpakaian, program aplikasi yang baik haruslah bersahabat dan  mudah digunakan oleh para user.
  6. Maintainabilitas, ketika program aplikasi mengalami kerusakan harus bisa diperbaiki secepatnya.
  7. Fleksibilitas, program aplikasi yang baik harus memiliki fleksibilitas di berbagai platform, misal bisa digunakan di berbagai operating system.
  8. Testabilitas, suatu program aplikasi yang baik haruslah bisa diuji kinerja dan kelayakannya.
  9. Portabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus bisa beroperasi di operating system generasi yang baru.
  10. Reusabilitas,yaitu suatu kondisi yang ideal di mana modularitas kode dan scratch dari suatu program aplikasi dapat diimpor oleh suatu proyek baru.  
  11. Interoperabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus harus bisa bekerja berbarengan dengan program aplikasi lain.

  1. III.     METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian di dalam tulisan ini adalah penelitian pengembangan. Dalam hal ini, Peneliti merancangbangun media diklat interaktif tipe What If Model kombinasi Spreadsheet Application dan VBA Ecel. Media diklat interaktif ini dipergunakan untuk kegiatan diklat ME BERMUTU 2013.

 

  1. B.       Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian pengembangan ini dilaksanakan di LPMP Jawa Tengah. Pelaksanaanya dalam kurun waktu mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan penelitian dimulai dari pertengahan bulan Desember 2012, dan di akhiri dengan penyusunan artikel penelitian yang dilaksanakan pada bulan  Januari 2013.

 

  1. C.      Prosedur Pengembangan
  2. 1.        Survei dan Studi Literatur

Studi literatur dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, buku elektronik, jurnal, dan browsing internet. Subjek kajian meliputi metodologi penelitian pengembangan, statistik, supervisi, multimedia interaktif, kegiatan diklat, teknologi piranti keras komputer, program aplikasi tipe What If Model, Spreadsheet Application dan VBA Excel. Studi dielaborasikan melalui wawancara dengan pakar penilaian pendidikan, pakar informasi teknologi, dan pakar metodologi penelitian.

 

  1. 2.        Analisis dan Perancangan Sistem

Sebagaiman dideskripsikan pada bab sebelumnya, multimedia interaktif yang efektif dapat memfasilitasi peserta diklat mensimulasikan kegiatan yang akan dilakukan di lapangan nanti. Dengan bantuan program aplikasi tipe What If Model, Spreadsheet Application dan VBA akan membantu para peserta diklat menginput data hasil ME Program BERMUTU KKG/MGMP mandiri, kemudian program otomatis akan menganalisis data dan menyajikan hasil analisi data serta memvisualisasikan hasilnya dalam bentuk grafik.  Otomatisasi semua pekerjaan tersebut akan membuat peserta diklat bisa menyelesaikan tugasnya secara lebih cepat,  akurat,  akuntabel,  efisien dan  efektif.

 

  1. D.    Desain Sistem

Gambar berikut merupakan diagram desain sistem multimedia interaktif yang akan dirancangbangun.  Gambar tersebut menunjukkan blok diagram alur aplikasi pengolahan data untuk simulasi ME KKG/MGMP mandiri Program BERMUTU secara umum. Input data meliputi identitas yaitu nama responden dan nama KKG/MGMP, data pengorganisasian KKG/MGMP, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta data peran stakeholder KKG/MGMP. Proses pengolahan data menggunakan Turnkey Application dengan merekayasa berbagai menu kombinasi antara Spreadsheet Application dan VBA Excel. Output data meliputi nama responden dan nama KKG/MGMP, profil pengorganisasian KKG/MGMP, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta profil peran stakeholder KKG/MGMP disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKG/MGMP secara keseluruhan.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 01. Blok Diagram Aplikasi Multimedia Interaktif

Simulasi ME KKG/MGMP mandiri Program BERMUTU

 

  1. 1.        System Flow Utama

Pada gambar System flow utama ditunjukkan penggunaan perangkat dimulai menu open file dari file master. Karena file ini menjadi master sehingga diproteksi. Untuk membukanya bisa diplih menu read only. Sebelum file master terbuka, harus dilakukan login berupa menyimpan data tersebut menjadi file baru dengan nama yang disesuaikan dengan nama responden dan nama KKG/MGMP nya. Langkah kedua adalah membuka lembar kerja pertama berupa halaman input data dengan diawali isian identitas nama responden dan nama KKG/MGMP-nya. Langkah ini berperan sebagai log masuk karena identitas yang dituliskan akan menjadi kata kunci untuk masuk ke dalam sistem penyimpanan data untuk responden yang bersangkutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 02. System Flow Utama

 

Setelah isian identitas dilakukan, bisa dilanjutkan dengan menu berikutnya dengan cara melakukan scroll ke bagian halaman di bawahnya, yaitu mulai masuk ke menu utama aplikasi. Input data menu aplikasi terdiri input data pengorganisasian KKG/MGMP, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta data peran stakeholder KKG/MGMP. Setiap input data akan diproses secara langsung (on going process). Jadi jika kita lihat di halaman output, akan langsung muncul tampilan menu outputnya.

Di dalam proses pengolahan data digunakan berbagai formula dari spreadsheet application dan VBA Excel. Menu menu yang digunakan sangat kompleks sehingga tidak bisa dideskripsikan dalam tulisan yang terbatas ini. Sebagian dari menu function yang digunakan adalah IF, SUM, AVERAGE, COUNTA, option button,  dan kombinasi diantara menu-menu tersebut.

Selama input data berlangsung, pengolahan data akan berlangsung secara simultan sehingga outputnya juga muncul sekaligus. Data-data yang dihasilkan meliputi nama responden dan nama KKG/MGMP, profil pengorganisasian KKG/MGMP, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta profil peran stakeholder KKG/MGMP disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKG/MGMP secara keseluruhan.     

 

  1. 2.        Hierarchy Input Process Output (HIPO)

Dalam rancangbangun media diklat ini, secara hirarkhis program aplikasi dibagi menjadi dua elemen yaitu maintenance aplikasi dan output berupa simulasinya. Elemen maintenance terdiri dari enam sub yaitu maintenance identitas responden, maintenance pengorganisasian KKG/MGMP, maintenance persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, maintenance kinerja kelompok kerja, maintenance sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta maintenance peran stakeholder KKG/MGMP.

Elemen simulasi terdiri dari enam sub juga, yaitu simulasi identitas responden, simulasi pengorganisasian KKG/MGMP, simulasi persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, simulasi kinerja kelompok kerja, simulasi sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta simulasi peran stakeholder KKG/MGMP.


 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                     

 

 

 

 

Gambar 03. HIPO

 

  1. 3.        Flowchart Aplikasi

Flowchart aplikasi terdiri dari dua bagian, yaitu untuk admin dan untuk pengguna. Alur program dimulai dari bagian admin yaitu menu buka file master, menu login berupa pilihan read only, langsung save as menjadi file user, yang selanjutnya oleh admin akan diolah melalui maintenance user menjadi data user yang kemudian mengalir ke bagian pengguna. Aplikasi untuk pengguna dimulai dari file user, isian identitas nama responden dan nama KKG/MGMP, data pengorganisasian KKG/MGMP, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta data peran stakeholder KKG/MGMP. Selanjutnya data diproses di bagian admin, yang berarti menganalisis data-data tersebut di atas.  Setelah diproses, maka keluar output berupa nama responden dan nama KKG/MGMP, profil pengorganisasian KKG/MGMP, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di atasnya yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah, serta profil peran stakeholder KKG/MGMP disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKG/MGMP secara keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 04. Flowchart Aplikasi

 

  1. 4.        Data Flow Diagram

Dalam rancang bangun suatu program aplikasi harus dibuat suatu model untuk menggambarkan pembagian dari sistem ke dalam model yang lebih kecil. Model seperti ini disebut Data Flow Diagram (DFD) yang kemudian dirinci ke dalam level-level tertentu untuk menjelaskan rinciannya.

 

  1. a.        Context Diagram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 05. Context Diagram Media Diklat

Simulasi ME Program BERMUTU KKG/MGMP mandiri

 

Gambar di atas disebut Context Diagram, yaitu diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Context Diagram akan memberikan gambaran tentang keseluruhan sistem, yang kemudian akan dirinci ke dalam diagram yang lebih rinci.

 

  1. b.        DFD Level 0

Karena keterbatasan ruang untuk tulisan ini, maka hanya DFD Level 0 saja yang bisa digambarkan. DFD level 0 merupakan rincian dari Context Diagram. Jadi di sini ada empat bagian utama, yaitu bagian admin, bagian maintenance, bagian simulasi, dan bagian user. DFD level 0 ini dapat digambarkan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 06. DFD Level 0

 

 

 

  1. E.  Evaluasi
  2. 1.    Subjek Uji Coba

Uji coba merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari suatu penelitian pengembangan. Proses pengujian produk tersebut dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam suatu kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil. Bisa juga sampai ke uji lapangan dengan skala yang lebih luas. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dari data yang dibutuhkan melalui uji coba itu, dan bergantung pada skala penggunaan barang yang dihasilkan (UM, 2003; Borg, 1983).

 

  1. a.    Uji Coba Ahli Isi 

Uji coba ahli dilakukan oleh pakar supervisi pendidikan. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap substansi materi ME Program BERMUTU dengan sasaran KKG/MGMP mandiri. Instrumen uji coba ini berupa angket yang berbeda dengan uji coba perorangan.

 

  1. b.   Uji Coba Perorangan

Subjek uji coba perorangan terdiri dari 10 orang calon pengguna, yaitu 2 orang fasilitator mata diklat dan 8 orang yang pernah menjadi peserta Diklat ME Program BERMUTU KKG/MGMP mandiri LPMP Jawa Tengah. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keefektifan program aplikasi yang dirancang bangun baik sebagai media diklat maupun sebagai program aplikasi ME Program BERMUTU KKG/MGMP mandiri yang bisa digunakan di lapangan.

 

  1. 2.      Instrumen Pengujian

Evaluasi uji coba dalam penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen angket dengan menggunakan Skala Likert dengan 4 pilihan. Angket terlebih dahulu divalidasi menggunakan instrumen telaah soal yang sudah distandarisasi oleh Depdiknas (Direktorat Pembinaan SMA, 2007) setelah terlebih dahulu dimodifikasi. Telaah validitas meliputi validitas muka, validitas konstruk, dan validitas isi. Telaah instrumen dimintakan pertimbangan pakar penelitian.

.

  1. 3.    Teknik Analisis Hasil Pengujian

Proses analisis data yang didapat ditujukan untuk mengetahui respon pengguna akhir terhadap program aplikasi yang telah dirancang bangun. Hasil angket akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis item summated scales  dari Skala Likert (Kothari,2004:83 ).

Dalam analisis item summated scales, skor akhir diperoleh dengan cara menjumlahkan angka untuk setiap jawaban dari hasil angket. Dari jumlah itu, dapat dibedakan taraf atau intensitas sikap peserta diklat terhadap aplikasi yang digunakannya. Adapun analisis tersebut untuk setiap butir pertanyaan menggunakan rumus:

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari skor setiap butir pertanyaan, kemudian dikonversi ke dalam kategori sebagai berikut  (Suharsimi, 2010: 192;  Kothari, 2004: 85 ):

76%  – 100% = sangat baik/menarik/sesuai/efektif

51%  – 75%   = baik/menarik/sesuai/efektif

26%  – 50%   = kurang baik/menarik/sesuai/efektif

0%    – 25%   = tidak baik/menarik/sesuai/efektif

 

  1. IV.     IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
  2. A.    Implementasi
    1. 1.      Perangkat Lunak
    2. OS Windows 7 Ultimate 32 bit
    3. Visual Basic Application Excel MS Office 2007
    4. 2.      Perangkat Keras
    5. Netbook
    6. Prosessor: Intel Atom CPU N450 @ 1,66 GHz
    7. Memory: 1024 MB RAM
    8. Display: Intel Media Graphic Accelerator 3150 memori 250 MB
    9. Monitor: Generic PnP Monitor 32 bit
    10. 3.      Instalasi

Untuk instalasi program aplikasi ini langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Copy program aplikasi ke hardisk
  2. Buka file masternya, maka akan muncul permintaan konfirmasi password. Pilih menu read only.
  3. Setelah program aplikasi terbuka, save as dan beri nama dengan nama user yaitu nama responden dan nama KKG/MGMP yang akan menjadi subjek ME Program BERMUTU. Langkah ini adalah langkah terakhir dalam instalasi.

 

  1. 4.      Implementasi Input dan Output
    1. a.        Form Identitas Aplikasi

Form utama aplikasi adalah lembar kerja yang berisi judul program aplikasi, isian data nama resonden, nama KKG/MGMP mandiri, dan data identitas lainnya.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 07. Lembar Input Data Identitas

 

  1. b.        Form Input Data

Menu berikutnya adalah sheet kedua yaitu input data. Dengan pertimbangan untuk mempermudah responden dalam mengisi instrumen, semua komponen data dimasukkan di halaman ini.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 08. Lembar Input Data

  1. c.         Output Profil KKG/MGMP Mandiri

Lembar output ini menjadi sajian utama hasil program aplikasi ini, berupa hasil pengolahan data tentang profil KKG/MGMP mandiri beserta visualisasinya dalam bentuk diagram batang. Pada halaman ini disajikan profil pengorganisasian, profil persiapan, profil kinerja, profil sinergitas, profil peran stakeholder dan profil gambaran umum kelompok kerja.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 09. Lembar Output Visualisasi Hasil ME KKG/MGMP mandiri

 

 

  1. B.     Hasil Evaluasi
    1. 1.        Hasil Uji Coba Ahli ME Program BERMUTU

Uji coba ahli dilaksanakan dengan subjek seorang National Core Team Program BERMUTU.

Tabel 01. Uji Coba Ahli Isi

 

 
   

 

NO

PERTANYAAN

4

3

2

1

1.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data Pengorganisasian KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

 

2.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data Persiapan KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

3.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data Kinerja KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

4.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data Sinergitas KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

5.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data peran stakeholder KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

6.

Bagaimana akurasi penghitungan skor untuk data Profil KKG/MGMP mandiri secara keseluruhan?

 

 

 

7.

Bagaimana program aplikasi membantu pemahaman peserta diklat dalam hal proses ME KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

8.

Bagaimana program aplikasi meningkatkan efisiensi dan keefektivan ME KKG/MGMP mandiri?

 

 

 

 

Dari uji coba ahli diperoleh gambaran bahwa semua komponen program aplikasi termasuk kategori sangat baik sehingga tidak perlu perbaikan. 

 

  1. 2.        Hasil Uji Coba Perorangan

Uji coba perorangan dilaksanakan dengan subjek 2 orang fasilitator dan 8 peserta diklat. Berdasarkan tabel hasil uji coba perorangan menunjukkan bahwa semua komponen program sudah berfungsi dengan sangat baik, yaitu memperoleh skor di atas 75%. Dari instrumen terbuka diperoleh saran untuk disertakan manual penggunaan sehingga peneliti menambahkan manualnya secara terpisah.  

 

 

 

 

 

 

Tabel 02. Uji Coba Perorangan

 

 

 
   

 

 

NO

PERTANYAAN

4

3

2

1

SS*

(%)

1.

Bagaimana program aplikasi bekerja di komputer Anda?

 

10

 

0

 

0

 

0

100

2.

Bagaimana kinerja rumus-rumus yang ada dalam program aplikasi? 

 

10

 

0

 

0

 

0

100

3.

Apakah master program aplikasi tetap terproteksi sehingga setiap kali ada pengguna baru master tersebut tetap berfungsi?

 

 

7

 

 

2

 

 

1

 

 

0

92,5

4.

Bagaimana program aplikasi beroperasi di semua komputer yang ada di sekitar Anda?

 

9

 

1

 

0

 

0

97,5

5.

Bagaimana fungsi program aplikasi dalam semua penghitungan analisis data-data ME KKG/MGMP mandiri? 

 

10

 

0

 

0

 

0

100

6.

Bagaiman kemudahan program aplikasi untuk dicopy datanya ke program lain serta menyalin data dari program lain ke program aplikasi?

 

6

 

3

 

1

 

0

90

7.

Bagaimana program aplikasi membantu pemahaman Anda terhadap ME KKG/MGMP mandiri?

 

10

 

0

 

0

 

0

100

8.

Bagaimana program lain bekerja ketika Anda mengoperasikan program aplikasi?

 

8

 

1

 

1

 

0

92,5

9.

Apakah Anda merasakan bekerja dengan program aplikasi bisa lebih cepat?

 

10

 

0

 

0

 

0

100

10.

Apakah Anda merasakan bekerja dengan program aplikasi bisa lebih akurat?

 

7

 

2

 

1

 

0

92,5

SS*= Summated Scale

 

  1. 3.        Diseminasi Program

Setelah program aplikasi berfungsi dengan baik sesuai tujuan pengembangannya, maka perlu didiseminasikan kepada semua pemangku kepentingan yang membutuhkan. Diseminasi dilakukan kepada para peserta ketika diklat ME KKG/MGMP mandiri berlangsung dan diunggah di web sehingga bisa diunduh semua orang yang membutuhkan. Hasil berupa laporan penelitian diuanggah di www.lpmpjateng.co.id sedangkan program aplikasinya diunggah ke www.ziddu.com.

Adapun alamat webnya sebagai berikut:

http://www.ziddu.com/download/21347181/MASTERMEBERMUTUKKGMGMPMANDIRI.xls.html

 

 

 

  1. V.    PENUTUP
  2. A.  Simpulan

Uji coba media diklat interaktif program aplikasi simulasi ME KKG/MGMP mandiri yang telah dirancang bangun dalam penelitian pengembangan ini, disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator diklat dalam mensimulasikan ME KKG/MGMP mandiri.
  2. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu calon petugas ME sebagai peserta diklat memahami proses ME KKG/MGMP mandiri.
  3. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan ME KKG/MGMP mandiri secara lebih efisien dan efektif.

 

  1. B.  Saran

Dari hasil penelitian pengembangan media diklat interaktif  program aplikasi simulasi ME KKG/MGMP mandiri ini disarankan untuk penelitian lanjutan sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi ME KKG/MGMP mandiri yang terintegrasi dengan SIM KKG/MGMP.
  2. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi ME KKG/MGMP mandiri yang terintegrasi dengan SIM Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aseltine, James M. 2006. Supervisison for Learning: A Performance-Based Approach to Teacher Development and School Improvement. Alexandria Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Borg, Walter H. Dan Meredith Damien Gal. 1983. Educational Research: An Itntroduction. New York: Longman Inc.

Chen, Irene.2011. Instructional Design Methodologies. Dalam Kristin Klinger. Instructional Design:Concepts, Methodologies, Tools, and Applications. Hershey, New York: Information Science Reference.  .

DeMarco, John. 2008. Pro Excel 2007 VBA: Learn to build high-performance applications in Excel 2007 using VBA. Berkeley:Apress.

Fahy, Patrick J. 2003. Planning for Multimedia Learning. Dalam Sanjaya Mishra dan Ramesh C. Sharma. Interactive Multimedia in Education and Training (hal. 1-24). London: Idea Group Publishing.

Green, John, dkk. 2007. Excel 2007 VBA: Programmer’s Reference. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Gyurky, Szabolcs Michael de. 2006. Work Out Change: Systemic Innovation in Vocational Education and Training. OECD: Centre for Educational Research and Innovation.

Harvey, Greg. 2010. Excel 2010 All in One for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Hasted, Edward.2005. Software That Sells: A Practical Guide to Developing and Marketing Your Software Project.Indianapolis:Wiley Publishing Inc.

Hill, Peter.L. 2011. Practical Software Project Estimation: A Toolkit for Estimating Software Development Effort & Duration. New York: Mc. Graw Hill.

Jelen, Bill and Dwayne K. Dowell. 2007. Excel forAuditors. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2005. Learn Excel from Mr, Excel. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2008. 377 Excel Mysteries Solved. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2009. Excel Gurus Gone Wild. Uniontown: Holy Macro! Books.

Kothari,C.R. 2004. Research Methodology:Methods and Techniques. New Delhi: New Age International (P) Ltd., Publishers.

Michael Spector. 2008.  Handbook of Research on Educational Communications and Technology (Third Edition). New York: Lawrence Erlbaum Associates.

Parhar, Madhu. 2003. Instructional Design for Multimedia. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 27-38). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No. 9 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara. (Online: http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/pedoman.html. Direktorat Pembinaan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara. Diakses tanggal 02022012).

Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (CD ROM Materi Diklat KTSP SMA 2008 Direktorat Pembinaan SMA: KTSP SMA 2008).

Reddi, Usha V.2003. Educational Media: A Handbook for Teacher-Developers. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 3-13). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories, An Educational Perspective. Boston: Pearson Education Inc.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2008. POM (Project Operational Manual) BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading). (CD ROM Materi Diklat Provincial Core Team BERMUTU, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012).

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta:Aditya Media.

Taylor, Edward W. 2008. Transformative Learning Theory. Dalam Merriam, Sharan B (Eds). Third Update on Adult Learning Theory (hal. 5-13). San Francisco: Wiley Periodicals.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Verschuuren, Gerard,M.2006. From VBA to PSTO: Is Excel’s New Engine for You?. United States: Holy Macro! Books.

Walkenbach, John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Walkenbach, John. 2010. Excel 2010 Power Programming with VBA. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach, John. 2010. Microsoft Excel 2010 Formulas. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach,John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Wang, Victor C.X. 2010. Effective Teaching with Technology in Adult Education. Dalam Wang, Victor C.X. Integrating Adult Learning and Technologies for Effective Educaton: Strategic Approach (hal. 48-61). Hershey New York: Information Science Reference.

World Bank. 2007. Project Appraisal Document on Better EducationThrough Reformed Management and Universal Teacher Upgrading. (CD ROM Materi Diklat Provincial Core Team BERMUTU, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012).

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

SOFTWARE ME BERMUTU KS DAN PENGAWAS

Mohon diunduh Software ME BERMUTU KS Revisi dan Pengawas (Baru) klik di sini:

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

PKG

PKG PRAMESTI

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

PKB

SISTEM PKB & LAPORANNNYA (Bahan Sosisalisasi)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

MATERI TOT BERMUTU

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Template Laporan KKG Bermutu

Template Lap Keg KKG BERMUTU 20101031 KSPH 2007b

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Laporan KKG Bermutu Jember

laporan-kegiatan Jember

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar